Selamat Datang di I Love Aceh Official Blog, menyajikan beragam informasi dan merangkum lebih santai yang ada di seputar Aceh.
About UsPengelolaKontributor | Advertise & Banner AdsMedia Partner & Our ClientsInfo Event | Info Lomba Blog & Menulis

13 May 2012 0 Comments

Legenda Kota Langsa

Kantor Pos Indonesia Kota LangsaSejak kecil aku selalu berpikir tentang kota ini. Mungkinkah awal nama kota ini dari dua jenis burung yakni Elang dan Angsa.

Kota Langsa merupakan salah satu kota di Propinsi Aceh yang terletak di apit dua kabupaten yakni Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Penduduk setempat banyak yang bekerja sebagai petani dan nelayan, mereka mencari ikan di sungai atau daerah perairan disekitarnya yang mereka sebut Kuala. Pernah aku mendengar cerita seorang tukang becak yang selalu mengantarku kesekolah.

Pada zaman dahulu berdiri dua kerajaan burung yang mempunyai kekuasaan luas dan tentara burung yang kuat. Yang pertama yaitu kerajaan Angsa yang menguasai Kuala Simpang (Aceh Tamiang) dan satu lagi kerajaan Elang yang menguasai Kuala Idi (Aceh timur). Pada suatu musim dimana persediaan ikan-ikan di kerajaan Elang sudah mulai menipis. Raja Elang memerintahkan panglimanya untuk mencari daerah baru yang mempunyai persediaan ikan yang banyak. [...]

Mari berbagi:
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Digg
  • Tumblr
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
12 May 2012 0 Comments

Seven Top Diving Heavens in Indonesia

Salah satu maskapai terkenal di Indonesia merilis tujuh tempat diving (menyelam) yang mempunyai panorama laut dan pemandangan luar biasa, dan salah satunya itu berada di Aceh. Berikut ini ulasan dari Garuda Magazine yang diambil oleh tujuh oleh divers’ pilihan Indonesia.


[...]

Mari berbagi:
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Digg
  • Tumblr
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
4 May 2012 0 Comments

Tgk Chiek Kuta Karang Ahli Astrologi dari Aceh

Orang pertama yang memperkenalkan karya ulama besar dari Aceh ini bernama Syeikh Ismail bin Abdul Muthallib al-Asyi. Karya yang dimaksud itu berjudul “Sirajuz Zhalam fi Ma’rifatis Sa’di wan Nahasi fis Syuhuri wal Aiyam”, yang dicetak pada bagian pertama grup Tajul Muluk.

Kemudian ditemukan karyanya yang berjudul Qunu ‘liman Ta’aththuf yang masih dalam bentuk manuskrip. Beberapa di anataranya tersimpan di Museum Islam Pusat Islam Kuala Lumpur, juga di Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia.

Secara tidak disengaja, dua kertas kerja yang dibentangkan dalam Bengkel Sejarah Bahasa Melayu Dari Berbagai Kota (anjuran Bagian Penelitian Bahasa (DBP) dan Institut Bahasa, Kesusasteraan dan Kebudayaan Melayu (UKM 1992) terdapat sedikit informasi tentang ini. Dalam kertas kerja yang dibentangkan oleh Tuanku Abdul Jalil yaitu seorang Sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh menyebutkan, “… Ulama Besar Syeikh Abbas bin Muhammad bergelar Teungku Chik Kutakarang …”.

Dalam kertas kerja M. Adnan Hanafiah tertulis, “Seorang ulama lainnya, Syeikh Abbas Kuta Karang di Aceh Besar, selaku penulis, tabib, ahli ilmu astronomi, berkedudukan Kadi Malikul Adil pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah (1857-1870) …”. Syeikh Abbas sendiri menulis serba ringkas asal usulnya, yaitu “… Syekh Abbas, Aceh nama negerinya, Masjidul Jami ‘Ulu Susu tempatnya, kejadiannya, Kuta Karang nama kampungnya”. Syeikh Ismail bin Abdullah Muthallib al-Asyi mencatatkan, “… Syeikhuna wa qudwatuna asy-Syeikh Abbas orang Aceh. Lagi sangat tabahhur pada sekalian fan ilmu handasah dan ilmu falakiyah …” [...]

Mari berbagi:
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Digg
  • Tumblr
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
2 May 2012 0 Comments

Syuhada 44 dan Perjuangan Pandrah

Syuhada 44 adalah salah satu peristiwa dan sejarah yang tak bisa kita lupakan yang pernah ternyata di Aceh terutama bagi para pakar sejarah Aceh, masyarakat dan khususnya masyarakat Jeunieb/Lheue ( Lheue asal muasalnya) yang berada di Kabupaten Bireuen.

Peristiwa itu berawal dari perjuangan terhadap Jepang yang terjadi pada 2 Mei 1945. Kisah ini berawal dari Teungku Pang Akob bersama-sama teman-temannya melakukan aksi untuk melawan segala bentuk penindasan yang sempat dilakukan oleh Jepang kepada Aceh pada masa itu.

Kamis, tengah malam itu Teungku Pang Akob bersama 40 orang pasukannya dari Lheu Simpang menyerbu tangsi militer Jepang di Pandrah. Perjuangan terhadap Jepang itu digerakkan oleh beberapa orang seperti Teungku Pang Akob, Teungku Ibrahim Peudada, Teungku Nyak Isa, Keuchik Usman, Keuchik Johan dan Teungku A Jalil. Mereka berdakwah memompa semangat rakyat untuk berperang melawan Jepang.

Jepang yang saat itu memberlakukan kerja paksa, menuia kebencian dari masyarakat. Hal itu dijadikan materi dakwa untuk memberontak. Secara pelahan-lahan rakyat membangkang terhadap kerja paksa yang diberlakukan Jepang. [...]

Mari berbagi:
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
  • Digg
  • Tumblr
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us