26 April 2012 0 Comments

Aceh’s Hero: Teungku Fakinah

Teungku Fakinah dengan nama singkatnya disebut dengan Teungku Faki adalah seorang wanita yang menjadi ulama besar, pahlawan perang yang ternama dan pembangunan pendidikan ulung.

Beliau dilahirkan sekitar tahun 1856 M, di Desa Lam Diran kampung Lam Beunot (Lam Krak). Dalam tubuh Beliau mengalir darah ulama dan darah penguasa/bangsawan. Ayahnya bernama Datuk Mahmud seorang pejabat pemerintahan dalam zaman Sultan Alaidin Iskandar Syah. Sedangkan ibunya bernama Teungku Muhammad Sa’at yang terkenal dengan Teungku Chik Lam Pucok, pendiri Dayah Lam Pucok, tempatnya pernah Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman belajar.

Sesudah Teungku Fakinah dewasa, dalam tahun 1872 dikawinkan dengan Teungku Ahmad dari Aneuk Glee oleh orang kampung Lam Beunot. Teungku Ahmad yang dipanggil Teungku Aneuk Glee ini membuka satu Dayah/perguruan (pesantren) yang dibiayai oleh mertuanya Teungku Muhammad Sa’at atas dukungan orang Lam Beunot dan Imuem Lam Krak. Pesantren ini banyak dikunjungi oleh pemuda dan pemudi dari tempat lain disekitar Aceh Besar, bahkan ada juga yang datang dari Pidie.

Tatkala menentang serangan I Belanda, Teungku Imam Lam Krak serta Tengku Ahmad/Teungku Aneuk Glee tarot dalam pasukan VII Mukim baet mempertahankan Pantai Cermin tepi laut Ulee Lheu yang di komandokan oleh Panglima Polem Nyak Banta dan Rama Setia. Dalam pertahanan perang itu pada tanggal 8 April 1873 tewaslah Panglima perang besar Rama Setia, Imeum Lam Krak, Tengku Ahmad Anuek Glee suami dari Tengku Fakinah dalam membela Tanah Air. [...]

13 February 2012 2 Comments

Pahlawan Aceh Pahlawan Bangsa

taman makam pahlawanOleh Mayor Caj. Drs. Jeni Akmal

Allah hai do do da idang
Seulayang Blang ka putoh taloe
Beurijang rayeuk muda sedang
Tajak banthu prang ta bela Nanggroe
Wahei aneuk bek ta duek le
Buedoh Sare ta bela bangsa
Bek ta takot keu darah ile
Adak pie mate poma ka rela

Dua dari enam bait syair lagu Aceh diatas sengaja saya tampilkan sebagai pembuka tulisan ini. Sejak dulunya lagu daerah dengan judul Do do daidi dijadikan sebagai pengantar tidur oleh orang tua Aceh untuk meninabobokan anak-anak mereka yang masih bayi.

Jika kita baca bait perbait, ternyata lagu ini memiliki nilai edukatif dan falsafah yang tinggi. Dimulai dengan menyebut nama Allah sebagai peletak dasar nilai-nilai keimanan, sikap mental dan kepribadian manusia, maka selanjutnya seorang bayi didoakan oleh setiap orang tua agar cepat menjadi besar. Jika mereka sudah besar, setiap anak-anak Aceh disiapkan untuk memiliki keberanian berperang membela negara.

Walau akhirnya dalam peperangan itu anaknya akan cedera atau bahkan mati sekalipun, ternyata sejak jadi bayi setiap orang tua Aceh sudah mengikhlaskannya. [...]

21 January 2012 0 Comments

Sosok Teuku Markam dan Perekonomian Indonesia

Puncak MonasMonumen Nasional atau Monas adalah karya monumental yang menjadi trademark Ibukota Jakarta. Ini impian dan obsesi presiden Soekarno untuk memberikan warisan sejarah yang bisa menunjukkan harkat dan martabat Indonesia di mata dunia.

Monumen yang memiliki tinggi 433 ft atau 132 meter adalah menara di tengah Lapangan Merdeka, yang juga melambangkan perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Konstruksi monumen ini dimulai tahun 1961 dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1975. Di atas monumen ini ada gambaran api yang ditutupi dengan foil emas.

Setelah pemerintah Indonesia kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada tahun 1950 dan pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno mulai merenungkan pembangunan monumen nasional yang sebanding dengan Menara Eiffel di alun-alun di depan Istana Presiden. Pada tanggal 17 Agustus 1954, Komite Monumen Nasional didirikan dan kompetisi desain diadakan pada tahun 1955. 51 entri ini menarik, tetapi hanya satu desain, oleh Frederich Silaban, yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh panitia, termasuk yang mencerminkan karakter Indonesia dalam gedung yang mampu berlangsung selama berabad-abad.

Bahkan sebuah kompetisi diulangi lagi pada tahun 1960, tetapi sekali lagi, tidak satu pun dari 136 entri yang memenuhi kriteria. Ketua tim juri kemudian diminta Silaban untuk menunjukkan desain untuk Sukarno. Namun, Sukarno tidak menyukai desain yang ada, sebab ia ingin menjadikan monumen dalam bentuk istimewa layaknya monumen. Hingga akhirnya rancangan Silaban dilanjutkan oleh RM Soedarsono dengan tambahan desain yakni memasukkan angka 17, 8 dan 45, mewakili tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dalam dimensi monumen. [...]

19 January 2012 2 Comments

Aceh’s Hero: Pucot Meurah Intan

Pocut Meurah IntanDe atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht. (HC Zentgraaff, Atjeh)

Pocut Meurah Intan masih kokoh berdiri ketika serdadu khusus Belanda dari Korps Marchausse (Marsose) menebas parang. Pocut masih menghunus rencong ketika pedang menetak dua luka di kepalanya dan dua di bahu. Ia baru bertekuk ketika pedang memutus otot tumitnya. Sungguh, ia perempuan perkasa.

Panglima perang perempuan yang paling dicari kolonial Belanda itu roboh di tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Ia tak lagi berkutik, nanar menatap 18 serdadu yang dipimpin Letnan Kolonel TJ Veltman. Nafasnya semakin besar. Tapi, rencong masih lekat di tangan kanannya ketika darah mengucur membasahi pakaian.

Siang 11 November 1902 itu hening sesaat. Pasukan Marsose diam menatap “singa perempuan” yang paling diburu itu tak lagi bicara. Seorang sersan kemudian datang ke Veltman, meminta petunjuk dari komandannya.

“Komandan, apakah saya harus menembakkan satu peluru saja agar penderitaan perempuan ini cepat berakhir”. [...]