19 January 2012 2 Comments

Aceh’s Hero: Pucot Meurah Intan

Pocut Meurah IntanDe atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht. (HC Zentgraaff, Atjeh)

Pocut Meurah Intan masih kokoh berdiri ketika serdadu khusus Belanda dari Korps Marchausse (Marsose) menebas parang. Pocut masih menghunus rencong ketika pedang menetak dua luka di kepalanya dan dua di bahu. Ia baru bertekuk ketika pedang memutus otot tumitnya. Sungguh, ia perempuan perkasa.

Panglima perang perempuan yang paling dicari kolonial Belanda itu roboh di tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Ia tak lagi berkutik, nanar menatap 18 serdadu yang dipimpin Letnan Kolonel TJ Veltman. Nafasnya semakin besar. Tapi, rencong masih lekat di tangan kanannya ketika darah mengucur membasahi pakaian.

Siang 11 November 1902 itu hening sesaat. Pasukan Marsose diam menatap “singa perempuan” yang paling diburu itu tak lagi bicara. Seorang sersan kemudian datang ke Veltman, meminta petunjuk dari komandannya.

“Komandan, apakah saya harus menembakkan satu peluru saja agar penderitaan perempuan ini cepat berakhir”. [...]

1 May 2011 2 Comments

Aceh’s Hero: Pocut Baren

Pocut BarenRiwayat Hidup
Aceh dikenal telah melahirkan banyak pahlawan wanita. Tercatat ada nama Cut Nyak Meutia, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Aisyah, Pocut Meurah Intan, Pocut Biheu, Cutpo Fatimah, Teungku Fakinah, Pocut Baren, dan masih banyak lagi. Pocut Baren yang menjadi bahasan tulisan ini merupakan wanita bangsawan yang lahir pada tahun 1880 di Tungkop, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, Indonesia. Ia adalah putri Teuku Cut Amat, Uleebalang (tokoh adat) Tungkop yang sangat berpengaruh.

Oleh karena ayahnya adalah seorang uleebalang, maka banyak ulama yang datang ke kediaman ayahnya untuk mendiskusikan masalah-masalah keagamaan. Kondisi demikian memudahkan Pocut Baren mendapatkan pendidikan agama (Islam) secara langsung dari ulama-ulama tersebut.

Pendidikan agama mampu menanamkan jiwa dan kepribadian Pocut Baren menjadi seorang wanita muda yang berani berkorban apa saja demi tegaknya kepentingan agama dan bangsanya. Selain modal pendidikan agama, kondisi politik pada saat itu juga membentuk kepribadiannya menjadi lebih dewasa lagi. Sebagaimana pada umumnya gadis-gadis Aceh seusianya, ia dilahirkan dalam suasana konflik (perang). Ia ikut berjuang menghadapi kolonialisme Belanda di bumi Aceh. [...]

3 March 2011 0 Comments

Cut Nyak Dien: Perempuan Aceh Berhati Baja

Makam Cut Nyak Dhien

Pusara Makam Cut Nyak Dhien, Sumedang

Propinsi Aceh merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.

Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1848, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar. [...]