3 February 2012 1 Comment

Maulid dalam Konteks Masyarakat Aceh

MaulidOleh Dra. Sri Waryanti

Setiap bulan Rabiul Awal tiba sebagian kaum muslim di Indonesia, bahkan di dunia, mulai tampak sibuk. Pada bulan inilah kaum muslim memperingati dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Setiap daerah merayakannya dengan cara berbeda-beda menurut kebiasaan yang mereka laksanakan. Misalnya di Banten, banyak orang melakukan ziarah ke makam para sultan, antara lain Sultan Hasanuddin, secara bergiliran. Sebagian diantaranya berendam di kolam masjid untuk mendapatkan berkah. Ada juga di antara mereka yang sengaja mengambil air untuk dibawa pulang sebagai obat.

Sementara itu di Cirebon, banyak orang Islam berdatangan ke makam Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Sanga, di kawasan Jawa Barat dan Banten. Biasanya, di Kraton Kasepuhan diselenggarakan upacara Panjang Jimat , yakni upacara memandikan pusaka-pusaka Kraton peninggalan Sunan Gunung Jati. Banyak orang berebut untuk memperoleh air bekas cucian tersebut karena dipercaya membawa keberuntungan.

Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surabaya perayaan Maulid dikenal dengan istilah Sekaten. Istilah ini berasal dari kata Shahadatain, yaitu pengakuan tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. Kemeriahan serupa juga dapat dilihat di setiap negeri muslim sekarang ini, seperti di Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Sudan, Yaman, Iran, Malaysia, dan banyak negeri Islam lainnya. Di kebanyakan negara Islam, hari itu merupakan hari libur nasional. [...]

23 January 2012 0 Comments

Ranub dari Tradisi Sampai Peumulia Jamee

Batee RanubTradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, hingga saat ini.

Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari pelbagai golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan istana.

Asal Usul Tradisi

Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India.

Tetapi jika ditelusur berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.

Di masyarakat India, sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada para dewa sewaktu sembahyang di kuil-kuil. Beberapa helai daun sirih dihidangkan bersama dengan kelapa yang telah dibelah dua dan dua buah pisang emas. [...]

30 August 2011 0 Comments

Makna Setumpuk Daging di Hari Meugang

Meugang“Puasa ka thoe, pat tamita sie meugang (puasa sudah dekat, di mana kita cari daging meugang?),” demikian sebuah ungkapan bahasa yang kerap dibicarakan masyarakat Aceh setiap menjelang bulan puasa Ramadan. [...]

6 April 2011 0 Comments

“Madeueng”, Tradisi Masyarakat Aceh Pasca Bersalin

Madeueng

Oleh Evi Saptriyawati

Tradisi masyarakat Aceh “Madeueng” (bahasa Aceh) merupakan suatu prosesi dimana sang Ibu atau wanita yang baru selesai melahirkan harus melakukan pantangan selama 44 hari.

Hal ini dilakukan demi kesejahteraan Ibu dan sang bayi. Selama rentang waktu tersebut sang Ibu harus tetap berada dikamar tidurnya dan tidak dibenarkan berjalan-jalan apalagi keluar rumah. Sedangkan bayi terus dipingit berdampingan dengan ibunya.

Selama rentang waktu tersebut sang Ibu terus diberikan terapi berupa api diang (Aceh: madeueng) yang ditempatkan di bawah atau di sisi pembaringannya. Sehingga tubuh si ibu selalu mendapat udara panas untuk memulihkan kembali bagian-bagian tubuhnya sehingga segar bugar. Bahkan ada ibu-ibu yang melakukan prosesi ini di dapur yang lazim disebut ureung di dapu, yaitu orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur dengan bara api di bawah pembaringan. [...]